
KENDARI – Senin pagi (06/07), seorang karyawan yang tinggal di kawasan Kampus Universitas Halu Oleo (UHO) harus mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan karena sakit atau kendaraan rusak, melainkan karena tidak mendapatkan bensin untuk sepeda motornya.
Sejak pagi, ia berkeliling ke sejumlah kios penjual bensin eceran di sekitar tempat kosnya. Botol-botol yang biasanya berisi Pertalite tampak kosong.
Harapannya untuk berangkat bekerja pun sirna. Ia akhirnya mengirim pesan kepada rekan kerjanya.
“Hari ini saya tidak bisa masuk kantor. Bensin di kios-kios dekat kos sudah habis semua,” pesannya via chat whatsapp
Fenomena kelangkaan bensin eceran tidak hanya dialaminya. Seorang warganet di Facebook mengaku membeli bensin eceran seharga Rp15.000 per liter hari ini.
Padahal, dalam kondisi normal bensin eceran di Kota Kendari umumnya dijual sekitar Rp12.000 per liter. Kenaikan sekitar Rp3.000 per liter itu menambah keresahan masyarakat.
Baca juga : IAIN Kendari Menuntut Hentikan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
Kisah tersebut hanyalah satu potret dari situasi yang terjadi di berbagai sudut Kota Kendari hari ini.
Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terus memanjang. Warga yang biasanya hanya membutuhkan beberapa menit untuk mengisi bahan bakar kini harus mengorbankan waktu berjam-jam demi mendapatkan Pertalite.
Kota Kendari sore hari, sekitar pukul 17.00 Wita, antrean sudah terlihat mengular di SPBU Puwatu dan SPBU Andonohu. Mobil pribadi dari berbagai jenis memenuhi jalur antrean.
Pemandangan serupa berlanjut hingga malam hari. Sekitar pukul 23.00 Wita, ratusan kendaraan memadati SPBU Kemaraya hingga antreannya meluber ke badan jalan.
Bagi sebagian warga, malam itu bukan lagi sekadar mengisi bahan bakar. Mereka harus bersabar menunggu giliran yang tak kunjung tiba.
Salah seorang pengendara mobil, Antoni, mengaku memperkirakan baru memperoleh giliran mengisi BBM sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 dini hari.
“Bisa sampai jam satu atau jam dua dini hari baru selesai. Antreannya panjang sekali,” ujarnya.
Baca juga : Pimpinan DPR Temui Massa Aksi, Bahas BBM, MBG hingga Mahasiswa yang Ditahan
Antrean panjang tersebut mulai berdampak pada aktivitas masyarakat. Sebagian pekerja terlambat masuk kantor, pengemudi transportasi daring kehilangan jam operasional, sementara pelaku usaha kecil mengalami hambatan dalam distribusi barang.
Di tengah situasi itu, berbagai dugaan mengenai penyebab antrean pun bermunculan.
Salah satu faktor yang diduga ikut memengaruhi adalah peralihan konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Selisih harga yang cukup lebar membuat Pertalite menjadi pilihan yang lebih ekonomis.
Di Sulawesi Tenggara, harga Pertamax kini berada di kisaran Rp16.650 per liter. Sementara Pertalite masih dijual sekitar Rp10.000 per liter.
Perbedaan harga sekitar Rp6.650 per liter itu diduga mendorong sebagian pengguna kendaraan beralih menggunakan Pertalite. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi apakah faktor tersebut menjadi penyebab utama lonjakan antrean.
Baca juga : Peta Tuntutan Mahasiswa terhadap Prabowo-Gibran
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Himpunan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Kota Kendari (HIPPMAKOT).
Ketua Umum HIPPMAKOT, Muhammad Dzuljalli Wal Ikhram, meminta pemerintah, Pertamina, dan aparat penegak hukum memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab antrean.
Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui apakah kondisi itu dipicu keterlambatan distribusi, berkurangnya pasokan, meningkatnya konsumsi, atau faktor lainnya.
“Jangan biarkan masyarakat hanya berspekulasi. Pemerintah dan pihak terkait harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.
Di balik setiap mobil dan sepeda motor yang menunggu berjam-jam, ada pekerja yang kehilangan waktu produktif, mahasiswa yang kesulitan beraktivitas, pengemudi yang tertunda mencari nafkah, hingga keluarga yang harus menunda berbagai urusan karena satu kebutuhan paling mendasar belum juga terpenuhi yakni memperoleh bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan.
Kini, masyarakat tidak hanya menunggu giliran di SPBU. Mereka juga menunggu jawaban, mengapa Pertalite yang selama ini mudah diperoleh mendadak menjadi barang yang sulit didapat.